Gandum Berakhir Melemah oleh Maraknya Sentimen Negatif
Senin, 22 Desember 2008 - 08:45
iznews _ Commodity) - Harga gandum berjangka pada penutupan perdagangan di bursa CBOT dini hari Sabtu lalu mengalami penurunan. Anjloknya harga minyak, raly dolar As, dan kekhawatiran yang makin berkembang tentang kondisi ekonomi global mengakibatkan harga gandum mengalami tekanan lanjutan (22/12). Kondisi-kondisi tersebut mengakibakan permintaan gandum global mengalami penurunan tajam. Resesi yang sedang dialami AS saat ini dikhawatirkan menjadi resesi yang terpanjang sejak era akhir perang dunia kedua. Untuk saat ini permintaan komoditas sangat lemah kaerna penurunan daya beli masyarakat dan minimnya penyaluran kredit perbankan untuk membeli komoditas. Harga gandum berjangka untuk kontrak pengiriman bulan Maret pada penutupan perdagangan di CBOT mengalami penurunan sebesar 8.25 sen (1.4%) dan ditutup pada posisi 5.6325 dolar per bushel. Meskipun turun, akan tetapi minggu lalu harga gandum mengalami peningkatan sebesar 9.8%. sejak mencetak rekor tanggal 27 Februari lalu harga gandum telah mengalami penurunan sebesar 58%. Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting menilai bahwa pergerakan harga komoditas pertanian akan cenderung mengalami penurunan lanjutan. Kurangnya permintaan mengakibatkan sulit bagi komoditas untuk bergerak menguat terlalu jauh. Kondisi ekonomi saat ini belum dapat memberikan kepercayaan bagi para investor komoditas untuk kembali meningkatkan pembeliannya. Harga gandum diperkirakan akan mengalami pergerakan pada level 4-6 dolar per barel untuk saat ini.
Kedelai Melemah oleh Anjloknya Minyak Mentah
Senin, 22 Desember 2008 - 08:30
iznews - Commodity) - Anjloknya harga minyak mentah pada perdagangan minggu lalu menjadikan harga kedelai sulit untuk berkelit dari tekanan. Pada akhir perdagangannya minggu lalu harga kedelai mengalami penurunan yang cukup signifikan mengiring penurunan harga minyak mentah dan rally dolar AS (22/12). Penurunan harga minyak mentah berimbas kepada penurunan harga kedelai karena kedelai merupakan salah satu komoditas yang lazim digunakan sebagai bahan baku ethanol. Ethanol merupakan bahan bakar alternatif yang digunakan sebagai pengganti minyak mentah. Penurunan harga minyak mentah menjadikan permintaan bahan bakar alternatif berkurang. Hagra kedelai berjangka untuk kontrak bulan Maret mengalami penurunan sebesar 2 sen (0.2%) dan ditutup pada posisi 8.725 dolar per bushel. Minggu ini kedelai menggenapkan peningkatan sebesar 1.9%. sejak mencetak rekor pada tanggal 3 Juli lalu harga kedelai telah mengalami penurunan sebesar 47%. Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting menilai bahwa pergerakan harga komoditas pertanian akan cenderung mengalami penurunan lanjutan. Kurangnya permintaan mengakibatkan sulit bagi komoditas untuk bergerak menguat terlalu jauh. Kondisi ekonomi saat ini belum dapat memberikan kepercayaan bagi para investor komoditas untuk kembali meningkatkan pembeliannya. Harga kedelai diperkirakan akan mengalami pergerakan pada level 8-9 dolar per barel untuk saat ini.
Jagung Melemah oleh Kekhawatiran Kondisi Ekonomi
Senin, 22 Desember 2008 - 08:23
iznews - Commodity) - Harga jagung berjangka pada perdagangan di bursa cbot yang berakhir hari Sabtu dini hari lalu mengalami penurunan yang cukup signifikan. Harga jgung berjangka ini mengalami penurunan didorong oleh spekulasi makin melemahnya permintaan akibat kondisi ekonomi glaobal yang memburuk (22/12). Resesi yang terjadi di AS berawal sejak bulan Agustus tahun lalu akibat kolapsnya sektor perumahan di negara tersebut. Sejak saat itu ekonomi AS makin menunjukkan perburukan yang juga menular ke negara-negara lain di dunia seperti Eropa, Jepang, dan Inggris. Kondisi ini menjadikan prospek permintaan komoditas makin mengalami penurunan sehingga harganya terus bergerak melemah. Harga jagung berjangka untuk kontrak bulan Maret di CBOT mengalami penurunan sebesar 8.75 sen (2.2%) dan ditutup pada posisi 3.8075 dolar per bushel. Minggu lalu hagra jagung membukukan peningkatan sebesar 1.9%. Harga kontrak paling aktif jagung di bursa CBOT telah mengalami penurunan sebesar 52% sejak mencetak rekor pada tanggal 27 Juni lalu di posisi 7.9925 dolar per bushel. Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting menilai bahwa pergerakan harga komoditas pertanian akan cenderung mengalami penurunan lanjutan. Kurangnya permintaan mengakibatkan sulit bagi komoditas untuk bergerak menguat terlalu jauh. Kondisi ekonomi saat ini belum dapat memberikan kepercayaan bagi para investor komoditas untuk kembali meningkatkan pembeliannya. Harga jagung diperkirakan akan mengalami pergerakan pada level 3-4 dolar per barel untuk saat ini.
Kopi Berjangka Melemah oleh Rally Dolar
Senin, 22 Desember 2008 - 08:00
iznews - Commodity) - Harga kopi berjangka pada akhir perdagangan di bursa berjangka ICE Futures di New York hari Sabtu dini hari lalu mengalami penurunan yang cukup signifikan. Harga kopi mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam empat sesi seiring dengan rebpund yang dialami oleh dolar AS. Rebound mata uang AS ini mengakibatkan para investor mengalihkan investasinya dari komoditas ke dolar. Kenaikan yang dialami oleh dolar AS mencapai 2.7% terhadap enam mata uang rival utamanya yang tergabung dalam indeks dolar. Kenaikan nilai tukar dolar AS ini dipicu oleh persetujuan Presiden Bush untuk mengucurkan dana senilai hampir 18 miliar dolar untuk menyelamatkan sektor otomotif yang hampir kolaps. Pada penutupan perdagangan minggu lalu harga kopi arabika berjangka untuk kontrak bulan Maret di New York melemah 1.55 sen (1.4%) dan ditutup pada posisi 1.1095 dolar per pon. Minggu lalu kopi berjangka membukukan penurunan mingguan sebesar 1.1%. sementara itu harga kopi robusta di London mengalami penurunan sebesar 60 dolar (3.2%) dan ditutup pada posisi 1801 dolar per metric ton. Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga kopi berjangka berpotensi untuk melemah dalam jangka panjang meskipun untuk saat ini sedang memasuki fase menguat musiman. Menjelang musim dingin, harga kopi cenderung menguat karena permintaan akan minuman hangat makin banyak. Kopi berjangka untuk saat ini diperkirakan masih akan bergerak di kisaran 1 - 1.2 dolar per pon.
Emas Berjangka Berpotensi Untuk Menguat Lagi
Senin, 22 Desember 2008 - 07:00
iznews - Commodity) - Harga emas berjangka pada penutupan perdagangan di bursa Nymex dini hari Sabtu lalu membukukan kenaikan mingguan. Minggu lalu merupakan minggu ketiga harga emas mengalami peningkatan. Peningkatan harga emas ini merupakan kelanjutan dari spekulasi bahwa rally dolar akan terhenti (22/12). Pada akhir perdagangan minggu lalu, harga emas mengalami penutupan pada posisi 837.40 dolar per ons. Minggu lalu harga emas menggenapkan penurunan sebesar 2.1%. Pada tanggal 16 Desember lalu Fed menurunkan suku bunga sebesar 75 bps menjadi 0.25%. Penurunan suku bunga FFR ini menjadikan dolar melemah cukup tajam. Harga emas hingga saat ini telah mengalami penurunan sebesar 19% sejak mencapai level tertingginya sepanjang sejarah pada bulan Maret lalu. Pada saat itu harga emas melejit hingga mencapai level 1033 dolar per ons seiring dengan anjloknya dolar ke level rekor terendah terhadap euro. Menurut Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting, kenaikan harga emas berpotensi berlanjut untuk jangka panjang dengan kemungkinan koreksi teknikal setelah mencapai di atas level 850 dolar per ons dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang emas berpotensi untuk kembali mencetak rekor tertinggi.
Senin, 22 Desember 2008 - 08:45
iznews _ Commodity) - Harga gandum berjangka pada penutupan perdagangan di bursa CBOT dini hari Sabtu lalu mengalami penurunan. Anjloknya harga minyak, raly dolar As, dan kekhawatiran yang makin berkembang tentang kondisi ekonomi global mengakibatkan harga gandum mengalami tekanan lanjutan (22/12). Kondisi-kondisi tersebut mengakibakan permintaan gandum global mengalami penurunan tajam. Resesi yang sedang dialami AS saat ini dikhawatirkan menjadi resesi yang terpanjang sejak era akhir perang dunia kedua. Untuk saat ini permintaan komoditas sangat lemah kaerna penurunan daya beli masyarakat dan minimnya penyaluran kredit perbankan untuk membeli komoditas. Harga gandum berjangka untuk kontrak pengiriman bulan Maret pada penutupan perdagangan di CBOT mengalami penurunan sebesar 8.25 sen (1.4%) dan ditutup pada posisi 5.6325 dolar per bushel. Meskipun turun, akan tetapi minggu lalu harga gandum mengalami peningkatan sebesar 9.8%. sejak mencetak rekor tanggal 27 Februari lalu harga gandum telah mengalami penurunan sebesar 58%. Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting menilai bahwa pergerakan harga komoditas pertanian akan cenderung mengalami penurunan lanjutan. Kurangnya permintaan mengakibatkan sulit bagi komoditas untuk bergerak menguat terlalu jauh. Kondisi ekonomi saat ini belum dapat memberikan kepercayaan bagi para investor komoditas untuk kembali meningkatkan pembeliannya. Harga gandum diperkirakan akan mengalami pergerakan pada level 4-6 dolar per barel untuk saat ini.
Kedelai Melemah oleh Anjloknya Minyak Mentah
Senin, 22 Desember 2008 - 08:30
iznews - Commodity) - Anjloknya harga minyak mentah pada perdagangan minggu lalu menjadikan harga kedelai sulit untuk berkelit dari tekanan. Pada akhir perdagangannya minggu lalu harga kedelai mengalami penurunan yang cukup signifikan mengiring penurunan harga minyak mentah dan rally dolar AS (22/12). Penurunan harga minyak mentah berimbas kepada penurunan harga kedelai karena kedelai merupakan salah satu komoditas yang lazim digunakan sebagai bahan baku ethanol. Ethanol merupakan bahan bakar alternatif yang digunakan sebagai pengganti minyak mentah. Penurunan harga minyak mentah menjadikan permintaan bahan bakar alternatif berkurang. Hagra kedelai berjangka untuk kontrak bulan Maret mengalami penurunan sebesar 2 sen (0.2%) dan ditutup pada posisi 8.725 dolar per bushel. Minggu ini kedelai menggenapkan peningkatan sebesar 1.9%. sejak mencetak rekor pada tanggal 3 Juli lalu harga kedelai telah mengalami penurunan sebesar 47%. Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting menilai bahwa pergerakan harga komoditas pertanian akan cenderung mengalami penurunan lanjutan. Kurangnya permintaan mengakibatkan sulit bagi komoditas untuk bergerak menguat terlalu jauh. Kondisi ekonomi saat ini belum dapat memberikan kepercayaan bagi para investor komoditas untuk kembali meningkatkan pembeliannya. Harga kedelai diperkirakan akan mengalami pergerakan pada level 8-9 dolar per barel untuk saat ini.
Jagung Melemah oleh Kekhawatiran Kondisi Ekonomi
Senin, 22 Desember 2008 - 08:23
iznews - Commodity) - Harga jagung berjangka pada perdagangan di bursa cbot yang berakhir hari Sabtu dini hari lalu mengalami penurunan yang cukup signifikan. Harga jgung berjangka ini mengalami penurunan didorong oleh spekulasi makin melemahnya permintaan akibat kondisi ekonomi glaobal yang memburuk (22/12). Resesi yang terjadi di AS berawal sejak bulan Agustus tahun lalu akibat kolapsnya sektor perumahan di negara tersebut. Sejak saat itu ekonomi AS makin menunjukkan perburukan yang juga menular ke negara-negara lain di dunia seperti Eropa, Jepang, dan Inggris. Kondisi ini menjadikan prospek permintaan komoditas makin mengalami penurunan sehingga harganya terus bergerak melemah. Harga jagung berjangka untuk kontrak bulan Maret di CBOT mengalami penurunan sebesar 8.75 sen (2.2%) dan ditutup pada posisi 3.8075 dolar per bushel. Minggu lalu hagra jagung membukukan peningkatan sebesar 1.9%. Harga kontrak paling aktif jagung di bursa CBOT telah mengalami penurunan sebesar 52% sejak mencetak rekor pada tanggal 27 Juni lalu di posisi 7.9925 dolar per bushel. Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting menilai bahwa pergerakan harga komoditas pertanian akan cenderung mengalami penurunan lanjutan. Kurangnya permintaan mengakibatkan sulit bagi komoditas untuk bergerak menguat terlalu jauh. Kondisi ekonomi saat ini belum dapat memberikan kepercayaan bagi para investor komoditas untuk kembali meningkatkan pembeliannya. Harga jagung diperkirakan akan mengalami pergerakan pada level 3-4 dolar per barel untuk saat ini.
Kopi Berjangka Melemah oleh Rally Dolar
Senin, 22 Desember 2008 - 08:00
iznews - Commodity) - Harga kopi berjangka pada akhir perdagangan di bursa berjangka ICE Futures di New York hari Sabtu dini hari lalu mengalami penurunan yang cukup signifikan. Harga kopi mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam empat sesi seiring dengan rebpund yang dialami oleh dolar AS. Rebound mata uang AS ini mengakibatkan para investor mengalihkan investasinya dari komoditas ke dolar. Kenaikan yang dialami oleh dolar AS mencapai 2.7% terhadap enam mata uang rival utamanya yang tergabung dalam indeks dolar. Kenaikan nilai tukar dolar AS ini dipicu oleh persetujuan Presiden Bush untuk mengucurkan dana senilai hampir 18 miliar dolar untuk menyelamatkan sektor otomotif yang hampir kolaps. Pada penutupan perdagangan minggu lalu harga kopi arabika berjangka untuk kontrak bulan Maret di New York melemah 1.55 sen (1.4%) dan ditutup pada posisi 1.1095 dolar per pon. Minggu lalu kopi berjangka membukukan penurunan mingguan sebesar 1.1%. sementara itu harga kopi robusta di London mengalami penurunan sebesar 60 dolar (3.2%) dan ditutup pada posisi 1801 dolar per metric ton. Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan harga kopi berjangka berpotensi untuk melemah dalam jangka panjang meskipun untuk saat ini sedang memasuki fase menguat musiman. Menjelang musim dingin, harga kopi cenderung menguat karena permintaan akan minuman hangat makin banyak. Kopi berjangka untuk saat ini diperkirakan masih akan bergerak di kisaran 1 - 1.2 dolar per pon.
Emas Berjangka Berpotensi Untuk Menguat Lagi
Senin, 22 Desember 2008 - 07:00
iznews - Commodity) - Harga emas berjangka pada penutupan perdagangan di bursa Nymex dini hari Sabtu lalu membukukan kenaikan mingguan. Minggu lalu merupakan minggu ketiga harga emas mengalami peningkatan. Peningkatan harga emas ini merupakan kelanjutan dari spekulasi bahwa rally dolar akan terhenti (22/12). Pada akhir perdagangan minggu lalu, harga emas mengalami penutupan pada posisi 837.40 dolar per ons. Minggu lalu harga emas menggenapkan penurunan sebesar 2.1%. Pada tanggal 16 Desember lalu Fed menurunkan suku bunga sebesar 75 bps menjadi 0.25%. Penurunan suku bunga FFR ini menjadikan dolar melemah cukup tajam. Harga emas hingga saat ini telah mengalami penurunan sebesar 19% sejak mencapai level tertingginya sepanjang sejarah pada bulan Maret lalu. Pada saat itu harga emas melejit hingga mencapai level 1033 dolar per ons seiring dengan anjloknya dolar ke level rekor terendah terhadap euro. Menurut Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting, kenaikan harga emas berpotensi berlanjut untuk jangka panjang dengan kemungkinan koreksi teknikal setelah mencapai di atas level 850 dolar per ons dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang emas berpotensi untuk kembali mencetak rekor tertinggi.
